KORELASI PREFERENSI BERMUKIM DAN KETAHANAN MASYARAKAT PASCA BENCANA DI KOTA PALU

DHARA KUSUMA WARDHANI
NIM. 196060600111

Categories: thesis spvision | Leave a comment

STRATEGI PENGEMBANGAN DESA WISATA DI KECAMATAN GANDUSARI

M. RIZA ALI MUZAQQI
NIM. 166060600111018

Abstract
Tourism village is manifestation of development that based on sustainable alternative tourism. Tourism village development is not only for tourism industry but also for community empowerment, environment preservation, culture and customs especially tourism village development in Gandusari District. The aim of this study was to identify the attractiveness of tourist village in Gandusari District (Krisik Village, Tulungrejo Village, Semen Village and Soso Village) so that it can be used as a guide in developing sustainable tourism villages. This study uses the ODTWA assessment analysis, which includes six elements of assessment, that called natural Tourism Attraction, Accessibility, Surrounding conditions, facilities and infrastructure to support relationship with Other Tourism Objects and Security Assessment of sustainable tourism destination, utilization. Economy for local community, cultural preservation for the community and visitors. Environmental preservation. The assessment community readiness uses four elements, those are community criteria, community perception, community participation and community desires.

Keywords: village tourism, sustainable village, readiness, potency

Categories: thesis spvision | Leave a comment

Ketahanan Komunitas di Kampung Tematik Kota Malang

RINGKASAN
Rizky Amanda Vidianti, Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Juli 2021, Ketahanan Komunitas di Kampung Tematik Kota Malang, Dosen Pembimbing: Bapak Dr. Ir. Surjono, MTP dan Bapak Gunawan Prayitno, S.P., M.T., Ph.D

Salah satu langkah inovasi permukiman yang dilakukan di Kota Malang ialah pengembangan kampung tematik. Terdapat 4 (empat) lokasi prioritas pengembangan kampung tematik yang kemudian menjadi lokasi studi pada penelitian ini yaitu Kampung Heritage Kajoetangan, Kampung Glintung Kultur, Kampung Terapi dan Kampung Jahe. Keempat kampung tematik ini telah berkembang dan bertahan lebih dari dua tahun serta sering menjadi lokasi percontohan atau studi banding untuk pengembangan kampung tematik dari daerah lain. Peneliti merasa penting untuk mengkaji faktor faktor yang mempengaruhi ketahanan komunitas dari keempat kampung tematik tersebut sehingga diharapkan dapat menjadi masukan terhadap kampung tematik di wilayah lain agar dapat berketahanan.Teknik pengambilan data terdiri dari observasi lapangan, wawancara, kuesioner, studi literatur, dan survei instansi. Penelitian menggunakan 1 teknik analisis yaitu analisis Structural Equation Model (SEM) untuk memperoleh 2 ouput penelitian yaitu a) Model Pengukuran dari indikator yang berpengaruh dalam ketahanan komunitas Kampung Tematik di Kota Malang dan b) Model Struktural dari aspek sosial, SDM, ekonomi, ekologi, budaya, fisik, teknologi, dan pemerintahan. Berdasarkan analisis, dari 44 indikator yang yang diteliti terdapat 17 indikator yang memiliki nilai signifikan dalam ketahanan komunitas di kampung tematik di Kota Malang yaitu Frekuensi kegiatan kemasyarakatan, penghasilanper bulan, pengeluaranper bulan, dampak kegiatan tematik terhadap ekonomi keluarga, Kepemilikan tabungan, persentase tabungan, pengelolaan persampahan, upaya pelestarian lingkungan, Kepadatan bangunan, penggunaan listrik, Keterlibatan pihak eksternal kampung, Keikutsertaan terhadap organisasi permukiman, keikutsertaan dalam kegiatan terkait kampung tematik, keterampilan yang dimiliki, keikutsertaan aktifitas peningkatan keterampilan, Penggunaan internet, Peranan TIK dalam kehidupan sehari hari. Jika dikaitkan dengan kondisi pada keempat kampung tematik, indikator-indikator tersebut memiliki pengaruh yang membuat masing masing kampung bertahanan. Terkait dengan model structural diperoleh urutan variabel yang memiliki nilai tertinggi hingga terendah sebbagai berikut 1) Ekonomi (0.528), Sumber Daya Manusia (0.260), Sosial (0.219), Teknologi (0.195), Ekologi (0.157), Pemerintahan (0.156), Fisik(0.112). Budaya (0.044). Kedelapan konstruk tersebut memiliki nilai t-values yang lebih tinggi dari t-table dan p-values yang signifikan. Hal ini dapat diartikan hipotesis dari masing masing konstruk terhadap ketahanan komunitas dapat diterima dan keseluruhan konstruk yang diteliti memiliki pengaruh yang signifikan dalam pengembangan kampung tematik di Kota Malang. Saran penelitian selanjutnya yaitu penelitian selanjutnya dapat menganalisis ketahanan masyarakat per tipologi pengembangan kampung tematik
Kata Kunci : Ketahanan Komunitas, Kampung Tematik, Malang, SEM, model pengukuran, model struktural

Categories: thesis spvision | Leave a comment

KETAHANAN KOTA BANJARMASIN TERHADAP BENCANA BANJIR

Disusun oleh:
AISYAH FATMAWATI, ST.
NIM. 206060600111004

Categories: thesis spvision | Leave a comment

HUBUNGAN MODAL SOSIAL DAN TINDAKAN KOLEKTIF DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN DI DESA GUNUNGSARI KOTA BATU

oleh:
ALLIFIA RIZQI SURYANDHANI
NIM. 196060600111004

Categories: thesis spvision | Leave a comment

VARIASI TIPOLOGI DAN MAKNA SIMBOL ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL ETNIK MINAHASA BERDASARKAN LATAR SUB ETNIK TOULOUR DAN TONSEA

Oleh :
Vicky Henrie Makarau
NRM . 1070601030110010

Categories: PhD Th spvision | Leave a comment

ADAPTASI ARSITEKTUR PADA RUMAH TINGGAL DI PERMUKIMAN KELURAHAN KAMPUNG JAWA TONDANO KABUPATEN MINAHASA

Oleh :
Pierre Holy Gosal
NIM. 107060103011006

Ringkasan
Dalam arsitektur, adaptasi dikenal dalam bentuk adaptasi perilaku atau adaptasi lingkungan dan adaptasi bangunan. Adaptasi terhadap lingkungan atau adaptasi perilaku yaitu perilaku penyesuaian yang merupakan bagian dari respon manusia terhadap lingkungan. Fenomena yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian atau pun di luar kebiasaan yang mengakibatkan perlunya adaptasi oleh manusia untuk mencapai keseimbangan. Adaptasi arsitektur dapat terjadi dengan sendirinya.
Berdasarkan fakta adanya perubahan-perubahan pada rumah-tinggal di permukiman Kampung Jawa Tondano, maka pertanyaan penelitian adalah: bagaimana akulturasi budaya mempengaruhi masyarakat kampung jawa tondano dalam membentuk pola tata ruang pemukiman di kampung jawa tondano dan faktor-faktor yang bagaimana yang mempengaruhi terjadinya adaptasi arsitektur rumah tinggal di kampung jawa tondano. Untuk itu maka tujuan penelitian ini adalah untuk, Mengkaji faktor akulturasi budaya yang terjadi di kampung Jawa Tondano dapat menyebabkan terjadinya pola pikir masyarakat Kampung Jawa sehingga berdampakm pada penataan tata-ruang permukiman Kampung Jawa Tondano. Mempelajari dan mengkaji ide, perencanaan, dan pelakasanaan pembangunan rumah masayarakat Suku Jawa yang merupakan tradisi yang dibawa oleh 63 orang Jawa yang bermukim di Kampung Jawa Tondano. Mengkaji semua aspek-aspek rumah tinggal yang dibangun oleh kelompok kecil masyarakat ini dan mengkaji rumah-rumah tinggal yang dibangun oleh generasi penerus kelompok masyarakat tersebut terutama pada cara –sara mereka membangun rumha tinggal di Kampung Jawa Tondano.
Akulturasi budaya yang terjadi di kampung jawa tondano adalah akulturasi budaya jawa dan budaya minahasa. proses akulturasi budaya ini berjalan dengan tidak berimbang dilihat dari jumlah penduduk karena jumlah komunitas suku jawa yang bermukim berjumlah 63 orang yang semuanya laki-laki dan masyarakat sub etnis tondano (tolour) yang berjumlah ribuan. sikap masyarakat suku jawa dan karakter kepribadian yang santun digabung dengan sikap keterbukaan masyarakat sub etnis tondano menjadikan proses akulturasi ini berjalan harmonis. agama komunitas kampung jawa sejak awal adalah islam dan setelah 190 tahun bermukim disana, semua penduduk kampung jawa saat ini 100% beragama islam, meskipun telah kawin campur dengan penduduk tondano, yang artinya dalam hal soal keyakinan beagama, tidak terjadi akulturasi.tarian hadrah tradisional, hadrah kreasi, lomba salawat jowo, tarian dana-dana, maengket jaton. dalam unsur budaya seni, terjadi akulturasi tetapi ciri khas budaya jawa lebih dominan. dalam soal berbahasa, terjadi proses akulturasi budaya harmonis dimana bahasa jawa dikombinasikan dengan bahasa tolour. bahasa ini kemudian dikenal dengan bahasa jaton.
Akulturasi budaya dikampung Jawa Tondano berpengaruh pada adaptasi arsitektur dan pola permukiman. Pecampuran budaya telah menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada setting lay-out Kampung Jawa Tondano mulai dari pola berkelompok dengan Masjid Al Fallah sebagai pusat dan berada disisi Sungai Sumasempot, menjadi Pola Permukiman Minawerot dengan rumah-rumah dibangun secara teratur dan berjejer di kedua sisi jalan. Selanjutnya pola ini berkembann menjadi Pola Grid mengikuti perkembangan Kota Tondano yang meluas sehingga Kampung Jawa Tondano menjadi bagian dari Kota Tondano. Selajutnya adaptasi pola permukiman ini terjadi karena lahanKampung Jawa yang tidak besar dan ditinggali penduduk Kampung Jawa yang semakin banyak maka perkembangan rumah meningkat. Peningkatannyang tidak didukung luas lahan ini menyebabkan pola permukiman menjadi padat. Kepadatan yang terus menerus terjadi sehingga terjadi aglomerasi dimana sebagian masyarakat Kampung Jawa
bermigrasi ke luar Kampung Jawa Tondano dan membentuk komunitas baru disana. Tercata ada 9 Kampung Jawa Tondano dengan nama-nama yang berbeda yang berada di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Minahasa Selatan, dan Kabupaten Bolaang Mongondow.
Akulturasi budaya berpengaruh pada rumah-tinggal masyarakat Kampung Jawa Tondano. Faktor-faktor yang memmasyarakat pengaruhi rumah-tinggal adalah perkawinan campur antara para pendatang yang berjumlah 63 orang. Perkawinan ini menghasilkan keturunan penduduk yang memiliki karakter baru. Tetapi selanjutnya dalam proses pembangunan rumah, mereka berubah.
Rumah-rumah yang dibangun mula-mula di Kampung Jawa Tondano adalah Omah Limasan dengan type yang palins sederhana. Rumah-rumah ini dianggap sebagai rumah sementara karena bagi Kyai Mojo dan pengikutnya, mereka masih berharap bahwa mereka akan dikembalikan ke Pulau Jawa. Setelah perang Diponegoro selesai tetapi kenyataanya mereka ternyata terus-menerus tinggal di Kampung Jawa. Faktor yang berpengaruh lain adalah faktor pengaruh pemerintah Kolonial Belanda yaitu Residen Manado Albert Jacques Frederic Jansen (1853-1859) memerintahkan kepada Tumenggung Zees Pajang sebagai Kepala Kampung untuk menata kembali pemukiman mereka. Untuk penataan ini maka pada saat itu generaTsi kedua telah berperan dan didukung dengan keluarga mereka yang berasal dari Tondano, maka Kampung Jawa dari sisi Sungai Sumasempot dipindahkan ke Jalan Akses Utama Kota Tondano ditarik lurus kedalam lahan Kampung Jawa menjadi aksis jalan baru. Dikedua sisi jalan inilah dibangun rumah-rumah baru yang secara arsitektur adalah rumah-rumah tradsional Minahasa dengan mengikuti tradisi membangun rumah di Minahasa. Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka rumah-rumah tradisional berubah karena pengaruh rumah-rumah Belanda yang mana ruumah-rumahbelanda telah menggunakan Cement pada pondasi, dan dinding serta balok-kolom rumah, penggunaan Seng sebagai penutup atap dan penggunaan Kaca pada daun jendela dan daun pintu. Pengaruh rumah-rumah beton ini mengantar pada perubahan bentuk arsitektur rumah di Kampung Jawa Tondano. Perubahan ini semakin nyata sejak rumah-rumah di Desa Woloan (Tomohon) mulai berproduksi masal. Rumah-rumah Woloan secara perlahan-lahan menggantikan eksisiting rumah tradisonal di Kampung Jawa Tondano. Hal itu terjadi hingga kini.

Categories: PhD Th spvision | Leave a comment

Dinamika Ruang Komunal pada Courtyard Permukiman Multi-Etnis Di Kota Gresik

Ditujukan untuk memenuhi persyaratan memenuhi gelar Doktor Teknik

DIAN ARIESTADI
NIM. 137060100111003

Categories: PhD Th spvision | Leave a comment

IMPLIKASI SOSIAL-BUDAYA DAN EKONOMI PADA FISIK KAWASAN TERDAMPAK STUDENTIFIKASI DI KELURAHAN KETAWANGGEDE, KOTA MALANG

RINGKASAN
Rahel Situmorang, Program Studi Doktor Teknik Sipil Universitas Brawijaya, Nopember 2021, Implikasi Sosial-budaya dan Ekonomi pada Fisik Kawasan terdampak Studentifikasi di Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang, Dosen Pembimbing: Antariksa, Surjono dan Agus Dwi Wicaksono

Tingginya kebutuhan akan tenaga terdidik dalam berbagai lapangan pekerjaan, menyebabkan terbukanya kesempatan bagi lulusan sekolah menengah untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Mahasiswa yang datang untuk menuntut ilmu ke kota lain (bukan kota tempat tinggalnya) membutuhkan tempat tinggal dan kelengkapannya. Kebutuhan akan hunian, seringkali tidak dapat dipenuhi atau disediakan oleh perguruan tinggi tempat belajarnya, sehingga harus dipenuhi oleh hunian sekitar kampus yang dimiliki oleh perorangan. Istilah studentifikasi didefinisikan sebagai perubahan sosial, budaya, ekonomi dan fisik sebagai akibat dari masuknya mahasiswa pada kawasan sekitar kampus di kota pendidikan. Beberapa penelitian membahas dampak studentikasi seperti: perubahan struktur populasi, kenaikan harga lahan, penurunan lingkungan fisik, perubahan pelayanan untuk keluarga menjadi pelayanan untuk mahasiswa, degradadasi sosial. sampai kepada gangguan kebisingan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui studentifikasi yang terjadi di Kota Malang sebagai kota pendidikan tinggi, kemudian menentukan dampak studentifikasi yang paling berpengaruh dalam perkembangan kawasan di sekitar kampus, dan merumuskan implikasi sosial-budaya dan ekonomi pada fisik kawasan terdampak studentifikasi di Kota Malang. Kawasan studi yang dipilih adalah kawasan sekitar kampus Universitas Brawijaya sebagai kampus terbesar di Malang. Metoda yang akan digunakan adalah statistic despkriptif dalam menganalisis hasil wawancara pada mahaisswa, pengelola/pemilik kos, warga, dan pelaku usaha, Sedangkan untuk menemukan model struktural pengaruh sosil-budaya dan ekonomi pada fisik kawasan, digunakan Structural Equation Model Partial Least Square (SEM-PLS) dalam mengolah hasil wawancara dengan Ketua Rukun Tetangga di Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang. Model struktural yang dihasilkan, menunjukkan bahwa sosial-budaya berpengaruh pada ekonomi dan fisik, demikian juga dengan ekonomi memilik pengaruh kepada fisik kawasan. Temuan yang diperoleh adalah: kohesi sosial, segregasi sosial, gaya hidup dipertahankan, keberlanjutan komunitas, keseimbangan usaha pelayananwarga dan warga, kesejahteraan warga meningkat, perubahan bentuk dan fungsi rumah, kualitas lingkungan, dan keamanan kawasan.
Kata kunci: hunian mahasiswa, perguruan tinggi perkotaan, perubahan perkotaan, studentifikasi, rencana kota.

Categories: PhD Th spvision | Leave a comment

MAKNA ESTETIKA DAN BUDAYA TERHADAP VITALITAS SITUS BERSEJARAH YANG DIKEMBANGKAN MENJADI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI PERKOTAAN

OLEH :
BROTO WAHYONO SULISTYO
NIM: 14715010011100

RINGKASAN
Revitalisasi sebuah situs bersejarah menjadi fungsi baru yang lebih relevan dengan kebutuhan kekinian sering dilakukan terutama untuk bangunan. Namun kegiatan ini cenderung didasarkan kepada kebutuhan untuk perubahan fungsi asli menjadi fungsi baru yang lebih relevan. Sedangkan untuk ruang terbuka publik di bagian wilayah kota jarang dilakukan dan kalaupun dilakukan lebih sering untuk fungsi yang tetap seperti fungsi aslinya. Perubahan atau penambahan infrastruktur baru untuk fungsi ruang terbuka hijau publik di situs bersejarah di wilayah kota dengan tetap mempertahankan fungsi asli namun juga tetap mengakomodasi fungsi baru saat ini dilakukan guna mengefisienkan penggunaan ruang di waliayah kota sekaligus untuk memenuhi kebutuhan area ruang terbuka hijau. Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan memanfaatkan area di sekitar situs-situs bersejarah yang telah ada menjadi ruang terbuka hijau publik (RTHP). Surabaya menjadi kasus yang diamati karena di surabaya pengembangan ruang terbuka hijau publik menjadi salah satu prioritas penanganan penataan kota, di samping di surabaya banyak terdapat situs yang dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau publik. Di sisi lain keberadaan situs yang ada di kota surabaya memiliki karakteristik yang berbeda dari sisi aktivitas yang ada di dalamnya termasuk aktivitas ritual dari pengunjung yang memanfaatkan situs-situs tersebut. Keberadaan situs bersejarah bersama-sama dengan ruang terbuka hijau publik tersebut mengakibatkan terjadinya kompleksitas aktivitas akibat beragamnya tujuan orang memanfaatkan ruang tersebut. Di sisi lain, dalam konteks historis dan perkembangan budaya, ruang terbuka hijau publik (RTHP) terutama yang terletak di kota juga merupakan sebuah pusat kegiatan sosial sebagai ruang interaksi sosial dan budaya. Penelitian ini dilakukan guna menjawab pertanyaan penelitian, yaitu Bagaimana kriteria dan pengukuran makna tingkat vitalitas pada situs yang dijadikan RTHP pada objek penelitian dan bagaimana makna estetika dan makna budaya pada situs yang dijdikan RTHP dilihat dari tinjauan vitalitasnya. Penelitian disusun dengan mixed method, yang terdiri dari analisis kuantitatif dan deskriptif dari hasil telaah literatur, lapangan serta penjaringan aspirasi pada objek penelitian serta analisis kualitatif berdasarkan aspek tematik berdasarkan kriteria-kriteria yang hasilnya didapat dari pengamatan lapangan secara detail yang disandingkan dengan pendapat dari narasumber. Temuan ini yang didapat diharapkan dapat memberikan hasil tentang bagaimana estetika dan budaya dimaknai dari tinjuan vitalitas untuk objek situs bersejatah yang dikembangkan menjadai Ruang Terbuka Hijau Publik. Hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan RTHP yang berasal dari situs bersejarah serta dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut.
Kata Kunci : Situs Bersejarah, Ruang Terbuka Hijau Publik, Vitalitas, Makna Estetis, Makna Budaya

Categories: PhD Th spvision | Leave a comment