The Priority of Settlement Sanitation Services Based on Sanitation Risk Level in Mojokerto

LINK
ABSTRACT
Sanitation management in Mojokerto city has been designed in technocratic ways in the forms of programs and activities which have to be supported by adequate community participation in order to optimize proper sanitation services. Priority sanitation service has been the key to the success of sanitation service improvement. This research was conducted to determine the reas/villages to receive priority sanitation services based on the sanitation risk level which was analyzed using both descriptive qualitative and quantitative methods. Research data including primary and secondary data were collected through questionnaires, interviews and observations. The priority sanitation services for high-risk areas were determined using Hanlon method, a method that measured the priority based on priority scales and problem solving. The priority was determined by weighing the impact and exposure in the forms of percentages that describe the influence of a research variable to the outcome. The prioritized villages are directly proportional with the results of the sanitation risk analysis in the management of domestic wastewater and household waste. Seen from the city planning perspective using spatial interaction approach, adjacent areas greatly affect each others. In addition, spatial comparison approach also regarded the comparison of spatial areas in determining the priority scale of services for domestic wastewater and household waste management. Highly-prioritized areas needed special treatment in the forms of programs and short-term plans while the programs designed for the less-prioritized areas and non-prioritized areas could be realized in medium or long-term.

ABSTRAK
Pengelolaan sanitasi di kota Mojokerto telah dirancang secara teknokratis dalam bentuk program dan kegiatan yang harus didukung oleh partisipasi masyarakat yang memadai untuk mengoptimalkan pelayanan sanitasi yang layak. Pelayanan sanitasi prioritas menjadi kunci keberhasilan peningkatan pelayanan sanitasi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan desa/kelurahan yang mendapatkan pelayanan sanitasi prioritas berdasarkan tingkat risiko sanitasi yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data penelitian yang meliputi data primer dan sekunder dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara dan observasi. Penentuan prioritas pelayanan sanitasi untuk wilayah berisiko tinggi dilakukan dengan metode Hanlon, yaitu metode yang mengukur prioritas berdasarkan skala prioritas dan pemecahan masalah. Prioritas ditentukan dengan menimbang dampak dan keterpaparan dalam bentuk persentase yang menggambarkan pengaruh suatu variabel penelitian terhadap hasil. Desa yang diprioritaskan berbanding lurus dengan hasil analisis risiko sanitasi dalam pengelolaan air limbah domestik dan limbah rumah tangga. Dilihat dari perspektif tata kota menggunakan pendekatan interaksi spasial, wilayah yang berdekatan sangat mempengaruhi satu sama lain. Selain itu, pendekatan perbandingan spasial juga mempertimbangkan perbandingan wilayah spasial dalam menentukan skala prioritas pelayanan pengelolaan air limbah domestik dan limbah rumah tangga. Daerah yang sangat diprioritaskan membutuhkan perlakuan khusus dalam bentuk program dan rencana jangka pendek sedangkan program yang dirancang untuk daerah yang kurang diprioritaskan dan tidak diprioritaskan dapat direalisasikan dalam jangka menengah atau panjang.

Cara mengutip artikel ini:

Mohammad Debby Rizani, Antariksa , Surjono and Ismu Rini Dwi Ari, 2019. The Priority of Settlement Sanitation Services Based on Sanitation Risk Level in Mojokerto. Journal of Engineering and Applied Sciences, 14: 3434-3443.

DOI: 10.36478/jeasci.2019.3434.3443
URL: https://medwelljournals.com/abstract/?doi=jeasci.2019.3434.3443

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Composting of chicken manure for biofertiliser production: A case study in Kidal Village, Malang Regency

LINK

ABSTRACT
Kidal Village, located in Malang Regency, has around 106 traditional chicken poultries with hens chicken population of 1,463,720 chickens, producing of 85.8 tonnes chicken manure per day. Currently the chicken manure is remained untreated and left on the bottom of the chicken cage over one-year period. Such practice has resulted odour problems especially to those area nearby the chicken poultry. The aim of this study is to investigate the potential of valorizing chicken manure for biofertiliser, as well as the impact of cocomposting of chicken manure (CiM) and cow manure (CoM) with blotong (B) on the compost physic-chemical quality. Randomized block design (RBD) was used in this study with factor of feedstock composition and C/N ratio. Composting was carried out under aerobic condition, with manual turning over, for 30 days period. The results demonstrated that CiM, CoM and blotong has high organic content, but lower C/N value. Blotong has higher moisture content (MC), which is suitable as co-composting feedstock to increase MC value of the mixture. This study also observed that all treatments combination have similar trends in terms of changes in temperature, pH and MC during composting process. The quality of resulted
compost were well within the Indonesian standard value for organic compost (SNI 19-7030-2004), indicating that composting of chicken manure or cow manure with and without blotong may become potential alternative routes for tackling pollution problems from the untreated manure.

ABSTRAK
Desa Kidal, yang terletak di Kabupaten Malang, memiliki sekitar 106 unggas ayam tradisional dengan populasi ayam ayam 1.463.720 ekor, menghasilkan 85,8 ton kotoran ayam per hari. Saat ini kotoran ayam dibiarkan tidak dirawat dan dibiarkan di dasar kandang ayam selama satu tahun. Praktek tersebut telah mengakibatkan masalah bau terutama untuk daerah-daerah sekitar unggas ayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi valorisasi kotoran ayam untuk pupuk hayati, serta pengaruh kocomposting kotoran ayam (CiM) dan kotoran sapi (CoM) dengan blotong (B) terhadap kualitas fisik-kimia kompos. Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan dalam penelitian ini dengan faktor komposisi bahan baku dan rasio C/N. Pengomposan dilakukan dalam kondisi aerobik, dengan pembalikkan manual, selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CiM, CoM dan blotong memiliki kandungan organik yang tinggi, tetapi nilai C/N yang lebih rendah. Blotong memiliki kadar air (MC) yang lebih tinggi, sehingga cocok sebagai bahan baku co-composting untuk meningkatkan nilai MC campuran. Penelitian ini juga mengamati bahwa semua kombinasi perlakuan memiliki kecenderungan yang sama dalam hal perubahan suhu, pH dan MC selama proses pengomposan. Kualitas kompos yang dihasilkan masih sesuai dengan standar Indonesia untuk kompos organik (SNI 19-7030-2004), menunjukkan bahwa pengomposan kotoran ayam atau kotoran sapi dengan dan tanpa blotong dapat menjadi jalur alternatif yang potensial untuk mengatasi masalah pencemaran dari kotoran yang tidak diolah.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

The Correlation of Settlement Preferences and Community Resilience Post-Disaster in Palu City

LINK ARTIKEL
Abstract
In 2018, Palu City was affected by massive disasters (earthquakes, tsunamis, and liquefaction) which paralyzed various activities and resulted in losses of around Rp. 7.6 trillion. The government compiled a disaster-prone zone map (ZRB) that showed 96.03% of Palu City was classified as disaster-prone. It does not only impact the community’s perception of disaster risk, but also on settlement preferences (moving, hesitant to move, and not moving). This condition will affect the community resilience level against disasters. This study aims to determine the correlation between settlement preferences and community resilience, and determine the level of post-disaster community resilience in each sub-district of Palu City. This study’s analysis was done by using SEM-PLS. The variables used are social, economic, environmental, infrastructure, culture, government, and settlement preferences. The results show that all variables have significant impacts. The highest correlation came from the settlement preferences. High community resilience is found in Mantikulore and East Palu sub-districts, moderate community resilience is found in South Palu and West Palu sub-districts, while low community resilience is found in Tawaeli, North Palu, Ulujadi, and Tatanga sub-districts. The results of this study can be used as recommendation for the government to increase community resilience in Palu City.

ABSTRAK
Pada tahun 2018, Kota Palu dilanda bencana besar (gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi) yang melumpuhkan berbagai aktivitas dan mengakibatkan kerugian sekitar Rp. 7,6 triliun. Pemerintah menyusun peta zona rawan bencana (ZRB) yang menunjukkan 96,03% Kota Palu tergolong rawan bencana. Tidak hanya berdampak pada persepsi masyarakat terhadap risiko bencana, tetapi juga pada preferensi permukiman (pindah, ragu pindah, dan tidak pindah). Kondisi ini akan mempengaruhi tingkat ketahanan masyarakat terhadap bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara preferensi permukiman dengan ketahanan masyarakat, serta mengetahui tingkat ketahanan masyarakat pascabencana di setiap kecamatan di Kota Palu. Analisis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan SEM-PLS. Variabel yang digunakan adalah sosial, ekonomi, lingkungan, infrastruktur, budaya, pemerintah, dan preferensi permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel memiliki pengaruh yang signifikan. Korelasi tertinggi berasal dari preferensi pemukiman. Ketahanan masyarakat yang tinggi terdapat di Kecamatan Mantikulore dan Palu Timur, ketahanan masyarakat sedang terdapat di Kecamatan Palu Selatan dan Palu Barat, sedangkan ketahanan masyarakat yang rendah terdapat di Kecamatan Tawaeli, Palu Utara, Ulujadi, dan Tatanga. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi bagi pemerintah untuk meningkatkan ketahanan masyarakat di Kota Palu.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Contribution of Community Resilience to City’s Livability within the Framework of Sustainable Development

LINK ARTICLE

ABSTRACT
Lessons learned from the crisis in Indonesia prove that the concept of community resilience, together with community-based development, significantly affects the ability to fight against the crisis at the local and community levels. In addition to improving urban livability, today’s urban development in Indonesia must also struggle to overcome various pressures due to natural disasters. Community resilience is considered a bottom-up solution to address these problems. This study aims to see how community resilience affects settlements’ livability in Malang City, one of Indonesia’s medium-sized cities. This research also analyses the relationship between resilience and livability variables to formulate prescriptive development strategies. The research used quantitative analysis by compiling and selecting data from secondary and primary sources to formulate indicators and variables of the proposed model. Descriptive analysis and structural equation modelling were conducted using SEM-PLS. The model built from this research shows that community resilience is the main factor that shapes livability in Malang City, indicated by social life, urban environment, and economy. Important variables forming community resilience are population vulnerability, physical infrastructure, and environmental infrastructure.

ABSTRAK
Pelajaran dari krisis di Indonesia membuktikan bahwa konsep ketahanan masyarakat, bersama dengan pembangunan berbasis masyarakat, secara signifikan mempengaruhi kemampuan untuk melawan krisis di tingkat lokal dan masyarakat. Selain meningkatkan livability perkotaan, pembangunan perkotaan di Indonesia saat ini juga harus berjuang mengatasi berbagai tekanan akibat bencana alam. Ketahanan masyarakat dianggap sebagai solusi dari bawah ke atas untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana ketahanan masyarakat mempengaruhi livability permukiman di Kota Malang, salah satu kota menengah di Indonesia. Penelitian ini juga menganalisis hubungan antara variabel resiliensi dan livabilitas untuk merumuskan strategi pembangunan preskriptif. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan mengumpulkan dan memilih data dari sumber sekunder dan primer untuk merumuskan indikator dan variabel model yang diusulkan. Analisis deskriptif dan pemodelan persamaan struktural dilakukan dengan menggunakan SEM-PLS. Model yang dibangun dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat merupakan faktor utama yang membentuk livability di Kota Malang, yang ditunjukkan oleh kehidupan sosial, lingkungan perkotaan, dan ekonomi. Variabel penting pembentuk ketahanan masyarakat adalah kerentanan penduduk, infrastruktur fisik, dan infrastruktur lingkungan.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Evaluating accessibility to city parks utilizing a space syntax method. A case study: City parks in Malang city

Abstract
The government of Malang city has developed public space by increasing the number of city parks and revitalising the existing parks, functioned as active parks and city forests. Despite the development of individual city parks, about the debate has circulated regarding how the parks are integrated with the city’s spatial system. The focus of this research comprises the evaluation of city parks performance according to the parks’ relative position in the city’s spatial system. This study applies the two variables, including: the relative position of city parks and the visit frequency. The relative position is identified by employing the notion of spatial configuration and space syntax. The visit frequency is explored by utilizing questionnaires. The correlation between the two variables is investigated by using Pearson Product Moment. The research indicates that there is a correlation between the two variables. This finding additionally proves that the spatial configuration determined access to city parks, thereby encouraging the visits. Further, this study has navigated some other motives for the visits in addition to the access.

link article

Abstrak
Pemerintah Kota Malang mengembangkan ruang publik dengan menambah jumlah taman kota dan merevitalisasi taman yang ada, difungsikan sebagai taman aktif dan hutan kota. Terlepas dari pengembangan taman kota individu, perdebatan telah beredar mengenai bagaimana taman terintegrasi dengan sistem tata ruang kota. Fokus penelitian ini meliputi evaluasi kinerja taman kota menurut posisi relatif taman dalam sistem tata ruang kota. Penelitian ini menggunakan dua variabel, antara lain: posisi relatif taman kota dan frekuensi kunjungan. Posisi relatif diidentifikasi dengan menggunakan gagasan konfigurasi spasial dan sintaksis ruang. Frekuensi kunjungan dieksplorasi dengan menggunakan kuesioner. Korelasi antara kedua variabel diselidiki dengan menggunakan Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara kedua variabel tersebut. Temuan ini juga membuktikan bahwa konfigurasi spasial menentukan akses ke taman kota, sehingga mendorong kunjungan. Selanjutnya, penelitian ini telah menavigasi beberapa motif lain untuk kunjungan selain akses.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Humanitarian engineering approach for re-designing pedestrian traffic inside the lecture building during the new normal COVID-19 pandemic

Abstract
COVID-19 has brought a massive impact on people’s daily activities, office workers have implemented “Working from Home” (WFH), an elementary school to high school students have implemented “Study from Home” (SFH), as well as Campus academic communities’ activities’ implementing Learning from Home. This circumstance has changed daily human behavior for a year. In 2021, upon the completion of a global vaccination program, the situation is followed by a change in the pattern of daily living activities towards “a new normal”, in which direct human interaction is reinstated while still fulfilling health protocols, one of the actions is social distancing. This study examined the detection of pedestrian traffic for the academic community of the Department of Urban and Regional Planning (DURP), Brawijaya University and predicted certain crowds’ spots in the DURP building, using Computer Vision and the integration of Agent-Based Model and Geographical Information Systems Indoor. Furthermore, alternative designs for pedestrians were carried out in the DURP building to prevent the occurrences of crowds in certain spots. The results obtained are that on the 1st Floor of the DURP building, the West and East entrance paths have high traffic, so it is necessary to arrange for the opening of the Southside door as an alternative for pedestrian access. Likewise, for the 2nd Floor, the opening of the south gate contributes to minimizing crowd spots. All in all, the blended learning process through face-to-face learning at students grades 1 and 2, then online learning at students grades 3 and 4 might minimize the potential Covid-19 transmission facing a new normal higher education learning process.

LINK ARTICLE
Abstrak
COVID-19 telah membawa dampak besar pada aktivitas sehari-hari masyarakat, pekerja kantoran telah menerapkan “Working from Home” (WFH), siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas telah menerapkan “Studi dari Rumah” (SFH), serta civitas akademika Kampus ‘kegiatan’ menerapkan Belajar dari Rumah. Keadaan ini telah mengubah perilaku manusia sehari-hari selama setahun. Pada tahun 2021, setelah selesainya program vaksinasi global, situasi tersebut diikuti dengan perubahan pola aktivitas kehidupan sehari-hari menuju “kenormalan baru”, di mana interaksi langsung manusia dipulihkan dengan tetap memenuhi protokol kesehatan, salah satu tindakannya. adalah jarak sosial. Penelitian ini mengkaji pendeteksian lalu lintas pejalan kaki bagi civitas akademika Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (DURP) Universitas Brawijaya dan memprediksi titik keramaian tertentu di gedung DURP, menggunakan Computer Vision dan integrasi Agent-Based Model dan Geographical Sistem Informasi Dalam Ruangan. Selanjutnya, desain alternatif untuk pejalan kaki dilakukan di gedung DURP untuk mencegah terjadinya keramaian di titik-titik tertentu. Hasil yang diperoleh bahwa pada Gedung DURP Lantai 1 jalur masuk Barat dan Timur memiliki lalu lintas yang tinggi, sehingga perlu diatur pembukaan pintu Sebelah Selatan sebagai alternatif akses pejalan kaki. Demikian juga untuk Lantai 2, pembukaan gerbang selatan berkontribusi untuk meminimalkan tempat keramaian. Secara keseluruhan, proses blended learning melalui pembelajaran tatap muka pada siswa kelas 1 dan 2, kemudian pembelajaran online pada siswa kelas 3 dan 4 dapat meminimalisir potensi penularan Covid-19 menghadapi proses pembelajaran new normal perguruan tinggi.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Cross-border strategies to respond the impact of climate change in the upstream Brantas Watershed, Indonesia

ABSTRACT
Brantas Watershed covers almost all regions of the Greater Malang (the Batu City, Malang City, and Malang Regency) and Blitar Regency in the East Java Province. These four cities/regencies are in one landscape so that several strategic sectors are interrelated. Global climate change impacts the form of environmental disasters in this region, which is even more significant in the future. This phenomenon has changed the development paradigm in this region. The research conducted descriptive analysis and observation in these four administrative areas to reveal the impacts on particular sectors, evaluate the preparedness of the four local governments, and formulate the strategies to integrate the development agendas in the landscape of Upstream Brantas Watershed. The study found that vulnerability and risk studies need to be carried out in an integrated perspective, then the local governments need to strengthen their adaptive capacity and include this agenda in the development programs. Likewise, the resolution of the problem needs to be done together across administrative boundaries, which is often a different challenge in Indonesia’s administrative form of decentralization.

link article

ABSTRAK
DAS Brantas mencakup hampir seluruh wilayah Malang Raya (Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang) dan Kabupaten Blitar di Provinsi Jawa Timur. Keempat kota/kabupaten ini berada dalam satu lanskap sehingga beberapa sektor strategis saling terkait. Perubahan iklim global berdampak pada bentuk bencana lingkungan di wilayah ini, yang bahkan lebih signifikan di masa depan. Fenomena ini telah mengubah paradigma pembangunan di wilayah ini. Penelitian ini melakukan analisis dan observasi deskriptif di keempat wilayah administrasi tersebut untuk mengungkap dampak pada sektor tertentu, mengevaluasi kesiapan keempat pemerintah daerah, dan merumuskan strategi untuk mengintegrasikan agenda pembangunan di lanskap DAS Brantas Hulu. Studi ini menemukan bahwa studi kerentanan dan risiko perlu dilakukan dalam perspektif yang terintegrasi, kemudian pemerintah daerah perlu memperkuat kapasitas adaptif mereka dan memasukkan agenda ini dalam program-program pembangunan. Demikian pula, penyelesaian masalah perlu dilakukan bersama melintasi batas-batas administratif, yang seringkali menjadi tantangan berbeda dalam bentuk administrasi desentralisasi di Indonesia.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Sustainable Tourism Development Review: Steeping Poverty in Samosir

Sustainable Tourism Development Review: Steeping Poverty in Samosir

Review Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan: Meningkatnya Kemiskinan di Samosir

PUBLISHED IN ADVANCE SCIENCE LETTER JOURNAL

Volume 24, Number 12, December 2018, pp. 9441-9445(5)

https://doi.org/10.1166/asl.2018.12293

 

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Lessons learnt from and sustainability assessment of Indonesian urban kampong

Kampung Kota Indonesia, Pelajaran yang Didapatkan dan Asesmen Keberlanjutannya

 

Abstract and full text

Pencarian model pembangunan yang baik (sustainable) telah berevolusi sejak era City Beautiful  hingga era Uncertainty saat ini. Banyak perencana dan perancang perkotaan mempraktikkan konsep dan desain modern Barat yang tidak sepenuhnya sesuai untuk negara-negara berkembang. Sesungguhnya dapat diidentifikasi bahwa bentuk dan karakteristik lokal dalam konteks perkotaan memiliki kandungan kearifan  yang berkelanjutan untuk kondisi lokal. Makalah ini mendukung argumen bahwa karakteristik lokal memiliki kualitas pembangunan yang berkelanjutan dengan cara mengevaluasi indikator pembangunan berkelanjutan dan mengusulkan metode dalam menghasilkan indikator agregat tentang kualitas pembangunan berkelanjutan di perkotaan Indonesia. Pendekatan dilakukan melalui logika fuzzy yang banyak digunakan dalam desain kontrol sistem, digunakan dalam merumuskan indikator agregat kampung yang berkelanjutan di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa kampung-kampung di Indonesia memiliki indikator yang baik dalam hal kekompakan, kepadatan, dan akses. Indikator lain juga akan menunjukkan kualitas pembangunan berkelanjutan jika kekurangannya ditingkatkan.

Categories: inter. publ. | Leave a comment

Convenience Component of Walkability in Malang City Case Study the Street Corridors Around City Squares

An article published in Procedia – Social and Behavioral Sciences  227: 587-592  Jul 2016

Abstrak

Kota Malang sebagai kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur cenderung kurang nyaman akhir-akhir ini. Kemacetan hampir terjadi setiap hari. Situasi mengarah kepada terganggunya kenyamanan pejalan kaki. Studi kasus ini menganalisis komponen kenyamanan walkability (CCW) di koridor jalan di sekitar Alun-Alun Merdeka (AAM) dan Alun-Alun Bunder (AAB). Variabel CCW terdiri dari infrastruktur pejalan kaki (PI). Indikator PI adalah penghalang, perawatan kebersihan, fasilitas dan dukungan yang mudah. Metode pengumpulan data PI diadopsi dari buku panduan survei walkability global dan dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi. Data PI diberi skor 1-5 untuk skala semantik. Data dianalisis dengan metode deskriptif-kuantitatif-interpretif. Hasil skor adalah 2,31 (pada kisaran: buruk sampai yang adil) sehingga PI perlu ditingkatkan. Disimpulkan bahwa indikator ‘roofing’ memainkan peran penting karena kemudahan dan diperlukan untuk melakukan penelitian selanjutnya untuk mempelajari faktor lainnya

DOI: 10.1016/j.sbspro.2016.06.119 · License: CC BY-NC-ND 4.0

written by Winansih, Erna, Antariksa Sudikno, Surjono SurjonoSetyo Amin

Categories: inter. publ. | Leave a comment